
Jakarta-Khoirul Adib pegiat Griya Peadaban mendapat prestasi juara satu Santri Inspiratif pada ajang Pesantren Award 2025 yang diselenggarakan oleh Kementrian Agama Republik Indonesia dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional tahun 2025, Senin (20/10/2025).
Saat ini, Adib tengah nyantri di Pondok Pesantren Darul Ilmi Meteseh Semarang. Ia juga seorang mahasiswa S2 di Universitas Diponegoro. Sebelumnya, Adib menjadi Santri Kalong (Ketika ngaji datang dan pulang setelah selesai ngaji) di Ponpes Ihya’us Sunnah Bojonegoro selama 3 tahun sembari menempuh studi S1-nya di UIN Walisongo Semarang dan menjadi marbot masjid di sana. Ia adalah seorang santri yang fokus di bidang teknologi dan telah meraih beberapa prestasi di bidang tersebut termasuk membuat platform.
“Hal ini tentunya sifatnya sangat subtansif banget ya, jadi menurut saya karena saya tidak tahu apa yang menjadi pilihan juri kayak gitu, karena dalam proses seleksi, kemarin juga banyak hal yang ditanyakan mulai dari teks pengajian, juga bagaimana kita di tes kebermanfaatannya, bagaimana prestasi kita, terus apa kontribusi kita bagi Pesantren, kayak gitu. Saya tidak bisa menjudge apa yang menjadi titik besar saya, mungkin ya Alhamdulillah saya bisa memenuhi semua aspek tersebut yang sudah menjadi ketentuan dalam santri inspiratif ini” ungkapnya.
Adib menyampaikan bahwa tinggal di Pesantren bukanlah suatu hambatan, tapi justru bisa menemukan ruang baru dalam belajar, karena di Pesantren kita tinggal bersama homogen yang berbeda-beda atau latar belakang teman yang berbeda. Hal inilah yang luar biasa menurutnya, karena bisa belajar dan berdiskusi dengan orang lain. Baginya ini menjadi sebuah opportunity untuk bisa terus berkembang. Di Pesantren kita bukan hanya belajar kitab saja akan tetapi bagaimana kita belajar beradaptasi di era digitalisasi saat ini.
“Sekarang pesantren-pesantren itu juga harus menyiapkan para santrinya supaya setidaknya dia punya softskill atau lifeskill yang nanti akan menjadi bekal untuk bisa survive di masa mendatang, dan inilah yang mungkin saya sendiri dan teman-teman lagi menyiapkan ini. Dan untuk mengatasi masalah, ya bagaimana kita sering berdiskusi, apa sih yang menjadi peluang terbaik untuk kita bisa mengambil kesempatan tersebut sehingga kita berjalan sesuai bidangnya masing-masing, saya di teknologi, ada temen saya di bidang teknik. Namun disitu, kita harus bisa memadukan tadi, berjalan sesuai koridor yakni tetap mengikuti perkembangan zaman tapi tidak melupakan tradisi atau culture yang sudah kita pegang teguh ketika di Pesantren” jelasnya.

Di sampaikan pula, ajaran di Pesantren banyak memberikan pandangan baginya. Pertama, kedisiplinan. Bagaimana cara membagi waktu antara belajar dan mengaji. Sebuah tantangan dimana management time dipertaruhkan untuk bisa bertahan hidup. Kedua, adab. Adab sangat penting karena ilmu tanpa adab itu sia-sia menurutnya, di Pesantren diajari bagaimana adab ketika bertemu orang lain, bertemu guru, hal inilah yang tidak bisa didapatkan di tempat lain.
“Berbicara dampak atau perubahan, nah ini tentunya juga menjadi tanggungjawab bagi saya, bagaimana saya bisa menjadi contoh keteladan bagi temen-temen semua sebagai seorang santri inspiratif, tentunya juga menjadi hal yang harus saya buktikan bahwa menjadi seorang santri ini saya bisa survive, saya bisa memberikan keteladanan bagi temen-temen semua khususnya, bahwa seorang santri itu bukan hanya kita belajar mengaji, tapi kita bisa berkontribusi di masyarakat, bagaimana kita bisa memberikan kepeloporan maupun memberikan kebermanfaat untuk orang lain” lanjutnya.
Adib bersama teman-temannya berinisiatif membuat platform santri akademik, yaitu pembelajaran agama berbasis metode pesantren online, platform by share untuk berbagi dan platform-platform yang lain. Ia juga menulis buku yang berjudul “Beradabtasi atau mati : santri milenial antara harmoni dan tradisi”. Buku ini menjadikan pengantar atau navigasi bagi para santri agar bisa survive di era derasnya arus digitalisasi.
“Untuk pesan yang saya sampaikan kepada teman-teman santri semua bahwa kita harus terus beradabtasi, karena kita tahu sekarang gejolak luar biasa terkait bagaimana pandangan pesantren, kita tetap terus berjalan sesuai koridor kita, bagaimana kita bisa berkontribusi bagi bangsa kita sesuai bidang kita masing-masing, entah di bidang tehnik atau sosial atau mau fokus di agama, bebas, silahkan temen-temen fokus dengan kemampuannya masing-masing dan jangan lupa keluarkan ilmunya ke sekitarnya. Mungkin kecil bagi kita tapi besar bagi oranglain”ungkapnnya.
“Nah ini yang harus kita tanamkan bahwa walaupun mungkin disitu kita belum merasa banyak ilmu, tapi yaudah kita tularkan aja agar kita bisa memberikan kebermanfaatan yang luas, karena ya tadi untuk menjadi ilmu yang barokah adalah ilmu yang ditularkan. Untuk terus berprestasi temen-temen jangan takut untuk mencoba, jangan takut untuk gagal. Sebagai seorang santri yaudah kita coba aja, kalau berhasil berarti itu rejeki” tegasnya.
Kontributor : Khayatun Nufus
#Santri #Inspiratif #PesantrenAwards2025
